Penipu Curi Kripto Lewat Phising, Kerugian 2024 Tembus Rp 35,7 Triliun
Pencurian aset kripto pada 2024 bukan sekadar soal angka besar, tetapi juga soal cara para pelaku bekerja yang makin rapi dan terarah. Di tengah meningkatnya ancaman siber, serangan phising tetap menjadi salah satu pintu masuk paling efektif untuk menguras dompet digital. Data Chainalysis mencatat, sepanjang tahun ini total kripto yang hilang mencapai USD 2,2 miliar atau sekitar Rp 35,7 triliun. Angka itu menegaskan bahwa keamanan di ekosistem kripto masih jauh dari kata aman.
Korea Utara Jadi Pusat Sorotan
Laporan Chainalysis menunjukkan lebih dari separuh aset kripto yang dicuri pada 2024 berkaitan dengan kelompok peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara. Porsinya mencapai 61 persen dari total kerugian, atau sekitar USD 1,34 miliar, yang tersebar dalam 47 kasus. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa serangan terhadap sektor kripto bukan lagi aksi acak, melainkan operasi yang berlangsung sistematis.
Data tersebut juga sejalan dengan laporan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menyebut peretas Korea Utara telah mencuri aset kripto senilai USD 3 miliar sepanjang 2017 hingga 2023. Dengan tren seperti ini, kripto kembali menunjukkan sisi paling rapuhnya: bukan hanya fluktuasi harga, tetapi juga risiko kehilangan aset akibat serangan terorganisir.
Paruh Pertama 2024 Jadi Periode Paling Berat
Mayoritas peretasan terjadi antara Januari hingga Juli 2024. Dalam periode itu saja, nilai kripto yang dicuri sudah mencapai USD 1,58 miliar, atau naik 84,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini menunjukkan bahwa para pelaku bergerak agresif sejak awal tahun, memanfaatkan celah keamanan yang masih terbuka di berbagai platform dan akun pengguna.
Serangan phising menjadi salah satu metode yang paling sering dipakai karena mengandalkan kelengahan korban. Begitu pengguna terpancing membuka tautan palsu atau memasukkan data akses ke situs tiruan, aset digital bisa berpindah dalam hitungan menit. Dalam banyak kasus, justru bukan teknologi canggih yang paling berbahaya, melainkan manipulasi yang menargetkan kebiasaan pengguna.
Setelah Juli, Serangan Melandai
Menariknya, setelah Juli 2024, frekuensi peretasan tercatat menurun. Chainalysis menduga penurunan ini berkaitan dengan dinamika geopolitik, termasuk menguatnya hubungan Korea Utara dan Rusia. Setelah pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada Juni, nilai aset kripto yang dicuri oleh peretas terkait Korea Utara disebut turun 53,73 persen.
Meski begitu, penurunan ini tidak otomatis berarti ancaman mereda. Chainalysis menilai Korea Utara mungkin sedang mengubah pendekatan kejahatan sibernya seiring meningkatnya kerja sama dengan Rusia. Artinya, pola serangan bisa berubah, tetapi risikonya tetap ada dan tetap menyasar titik paling lemah: pengguna yang kurang waspada dan sistem keamanan yang tidak diperkuat.





