Indonesia Rentan Jadi Target Perang Informasi Asimetris

by -305 Views

Ancaman terhadap kedaulatan negara kini tidak selalu datang dengan derap pasukan atau dentuman senjata. Di ruang digital, serangan bisa bekerja lebih senyap, tetapi efeknya jauh menjalar: opini publik digiring, kepercayaan masyarakat digerus, dan percakapan politik dipenuhi narasi yang sengaja disusun untuk memecah belah. Dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar, Indonesia masuk kategori negara yang rawan menjadi sasaran perang informasi asimetris.

Serangan di Ruang Siber Kian Sulit Dideteksi

Ruang siber kini menjadi medan baru bagi operasi destabilisasi. Cara kerjanya tidak selalu terang-terangan, melainkan lewat disinformasi, penguatan isu sensitif, dan manipulasi percakapan publik. Model serangan seperti ini kerap lolos dari perhatian karena tidak meninggalkan jejak fisik, tetapi dampaknya bisa langsung terasa pada stabilitas sosial dan politik.

Gambaran paling jelas terlihat dalam pemilu Romania pada 2024. Calin Georgescu, kandidat yang sebelumnya kurang diperhitungkan, tiba-tiba melesat popularitasnya. Lonjakan itu bukan ditopang kampanye konvensional, melainkan gelombang konten media sosial yang masif. Ribuan akun anonim dan bot digital diduga bergerak terkoordinasi menyebarkan pesan di Facebook, TikTok, dan Telegram, dengan tema yang menyentuh identitas nasional, agama, serta sentimen anti-Barat.

Batas Ancaman Dalam Negeri dan Luar Negeri Makin Kabur

Kasus Romania juga menunjukkan bahwa sumber serangan tidak selalu mudah dipetakan. Penelusuran lebih jauh mengarah pada fakta bahwa sebagian besar propaganda justru diproduksi secara lokal, meski ada indikasi keterlibatan pihak asing. Sejumlah materi bahkan disebut diperkuat oleh jaringan influencer dan agensi periklanan berbasis di luar negeri, termasuk dari London, melalui kerja sama yang melibatkan aktor domestik dan internasional.

Broto Wardoyo, akademisi sekaligus Ketua Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, menilai kasus ini memperlihatkan betapa tipisnya garis pemisah antara ancaman dari dalam dan dari luar di era digital. Ia menyebut serangan siber kerap tidak berdiri sendiri, melainkan bergerak lewat pertautan kepentingan lintas negara. “Kadang, sulit mengetahui mana serangan yang benar-benar datang dari asing dan mana yang dimotori pelaku lokal. Pada banyak kasus, keduanya berkelindan dalam satu gerakan terencana,” ujarnya, Selasa (23/9/2025).

Pelajaran Penting untuk Indonesia

Pelajaran dari Romania relevan bagi Indonesia. Negara ini memiliki basis pengguna internet yang sangat besar dan ruang publik digital yang sangat aktif. Dalam situasi politik yang mudah terpolarisasi, operasi informasi yang melibatkan bot, influencer, dan iklan digital bisa memperdalam perpecahan sosial sekaligus mengikis kepercayaan terhadap proses demokrasi.

Jika narasi tertentu terus diproduksi ulang dan disebarkan secara masif, publik akan semakin sulit membedakan mana isu yang lahir dari dinamika domestik dan mana yang sudah dipelintir oleh agenda luar. Di titik itu, perang informasi tidak lagi sekadar menyerang persepsi, melainkan ikut melemahkan legitimasi pemilu dan mendorong masyarakat masuk ke kubu-kubu yang makin ekstrem.

Rujukan dari tulisan berjudul Ancaman Siber Global Dan Ketahanan Siber Indonesia: Belajar Dari Kasus Pemilu Romania serta Ancaman Siber Global: Pelajaran Dari Kasus Pemilu Romania Bagi Ketahanan Siber Indonesia menegaskan satu hal: ketahanan siber tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Literasi digital publik harus ikut diperkuat agar ruang maya Indonesia tidak mudah dijadikan ladang operasi informasi yang menyamarkan kepentingan asing dan lokal dalam satu gerakan yang sulit dibongkar.