Gelombang baru di industri kripto kembali menguat, dan kali ini sorotan tertuju pada Zerohash. Startup aset digital itu berhasil mengamankan pendanaan senilai Rp 1,73 triliun dari sejumlah investor terkemuka, di saat pasar sedang membaca ulang arah bisnis kripto setelah perubahan besar di Amerika Serikat. Momentum ini datang beriringan dengan langkah Tether, penerbit stablecoin terbesar di dunia, yang bersiap memperluas jejaknya ke pasar AS.
Minat investor menguat di tengah perubahan regulasi
Pendanaan jumbo untuk Zerohash muncul tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang kripto yang membuka ruang lebih luas bagi perusahaan aset digital untuk memperkuat posisi mereka di dalam negeri. Situasi ini memunculkan optimisme baru, terutama di kalangan pemain yang menyasar layanan berbasis infrastruktur dan penggunaan institusional.
Di tengah lanskap yang bergerak cepat itu, Tether ikut mempertegas ambisinya. CEO Tether, Paolo Ardoino, mengatakan kepada Bloomberg bahwa perusahaan sedang menyiapkan produk stablecoin yang ditujukan untuk kebutuhan institusional di AS. Fokusnya bukan pada pengguna ritel, melainkan pada sistem pembayaran, penyelesaian antarbank, dan infrastruktur perdagangan yang membutuhkan aset digital yang efisien sekaligus lebih tertata.
Tether menyiapkan strategi khusus untuk pasar institusional
Ardoino menyebut Tether kini menyusun strategi domestik yang diarahkan secara khusus untuk pasar institusional. Langkah ini dipandang penting karena perusahaan ingin menghadirkan stablecoin yang dapat dipakai dalam ekosistem keuangan yang sudah berada dalam kerangka regulasi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Tether tidak sekadar mengejar ekspansi, tetapi juga berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan kepatuhan di AS. Di pasar sebesar itu, akses ke institusi keuangan dan pelaku perdagangan besar bisa menjadi penentu seberapa jauh stablecoin benar-benar dipakai dalam transaksi sehari-hari.
USDT masih dominan di pasar global
Di saat rencana ekspansi itu disusun, token utama Tether, USDT, tetap menjadi aset digital yang paling banyak diperdagangkan secara global. Per Juli 2025, sirkulasinya tercatat mencapai USD 163 miliar. Angka ini menegaskan posisi USDT sebagai salah satu instrumen paling berpengaruh dalam aktivitas perdagangan kripto di berbagai pasar.
Ardoino juga menegaskan bahwa perusahaan memilih bergerak secara privat sambil membangun kemitraan yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Sikap itu memperlihatkan kehati-hatian Tether saat masuk ke pasar AS, di mana regulasi dan kepatuhan menjadi syarat utama untuk bertahan dan berkembang.
AS jadi arena strategis baru bagi stablecoin
Bagi pelaku industri, undang-undang kripto yang diteken Trump tidak hanya menciptakan kepastian hukum, tetapi juga membuka peluang baru bagi perusahaan yang ingin menawarkan layanan stablecoin secara lebih resmi dan terstruktur. Dalam konteks inilah Tether melihat AS bukan lagi sekadar pasar tambahan, melainkan arena strategis untuk memperluas penggunaan stablecoin di level institusional.
Seperti dilaporkan Bloomberg, arah baru ini memperlihatkan bagaimana perusahaan aset digital besar mulai menyesuaikan langkahnya dengan regulasi yang berubah, tanpa meninggalkan posisi mereka sebagai pemain dominan di pasar global. Zerohash dan Tether kini sama-sama berada di titik yang menunjukkan satu hal: uang besar di kripto masih mengalir, tetapi kali ini dengan bahasa yang lebih dekat ke kepatuhan dan infrastruktur keuangan resmi.





