Bitcoin USD 120.000: Lonjakan Harga di Tengah Shutdown AS

by -213 Views

Bitcoin kembali menjadi pusat perhatian pasar global setelah menembus level USD 120.000, atau sekitar Rp 2 miliar. Kenaikan ini terjadi di tengah shutdown pemerintah Amerika Serikat yang membuat rilis data ekonomi resmi tersendat dan menyisakan lebih banyak tanda tanya bagi pelaku pasar. Saat acuan makro melemah, aset kripto justru bergerak lebih agresif dan memancing spekulasi baru soal langkah The Federal Reserve berikutnya.

Shutdown AS Bikin Pasar Kehilangan Pegangan

Penutupan pemerintahan AS membuat sejumlah indikator ekonomi penting tidak tersedia tepat waktu. Situasi ini mendorong pasar membaca ulang peluang bahwa The Fed bisa lebih cepat melonggarkan kebijakan moneter. Ekspektasi tersebut memberi dorongan tambahan bagi investor untuk masuk ke aset berisiko, termasuk Bitcoin yang kembali dipandang sebagai instrumen dengan daya tarik tinggi saat ketidakpastian meningkat.

Di saat yang sama, lonjakan harga BTC ikut menghidupkan kembali narasi lama tentang kripto sebagai pelindung nilai ketika kondisi makro ekonomi tidak menentu. Penguatan Bitcoin juga merembet ke aset digital lain, dengan Ethereum, Solana, dan XRP sama-sama mencatat pergerakan naik.

Tekanan Ekonomi AS Meningkatkan Minat ke Kripto

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut shutdown berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus pendapatan para pekerja. Namun, sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari Ketua The Fed Jerome Powell yang dapat memberi petunjuk lebih jelas soal arah kebijakan setelah ini.

Ketidakpastian itu justru membuka ruang bagi pasar kripto untuk melanjutkan penguatan. Investor terlihat masih menaruh perhatian besar pada aset yang dianggap lebih lincah menghadapi guncangan kebijakan dan perubahan sentimen global.

Derivatif Bitcoin Menunjukkan Aktivitas Spekulatif Naik

Tak hanya di pasar spot, minat terbuka pada kontrak berjangka dan opsi Bitcoin juga tercatat meningkat. Kenaikan ini biasanya menunjukkan aktivitas spekulatif yang lebih tinggi, sekaligus memberi sinyal bahwa volatilitas harga bisa bergerak lebih tajam dalam waktu dekat.

Secara historis, shutdown pemerintah AS kerap memicu pergerakan liar pada aset berisiko. Namun kali ini, Bitcoin justru memanfaatkan situasi tersebut untuk menembus level baru dan mempertegas posisinya sebagai aset yang semakin diperhitungkan ketika pasar sedang kekurangan kepastian.

Atribusi sumber: ringkasan informasi disusun dari materi yang menyebut lonjakan Bitcoin, komentar Menteri Keuangan AS Scott Bessent, serta data pasar derivatif BTC.