Tether dan Antalpha Siapkan Dana Rp 3,3 Triliun, Emas Makin Ditegaskan sebagai Arah Baru
Tether kembali mengirim sinyal kuat bahwa emas bukan sekadar pelengkap portofolio. Di tengah pasar kripto yang masih sensitif terhadap gejolak harga, penerbit USDT itu justru bergerak lebih jauh ke aset lindung nilai lewat kerja sama dengan Antalpha untuk menghimpun dana hingga sekitar USD 200 juta atau setara Rp 3,3 triliun.
Emas Semakin Jadi Fokus Tether
Langkah tersebut sejalan dengan pandangan CEO Tether, Paolo Ardoino, yang sejak lama menunjukkan dukungan terbuka terhadap emas sebagai penyimpan nilai. Berdasarkan data per Juni, Tether tercatat memiliki emas senilai USD 8,7 miliar atau sekitar Rp 144,16 triliun di neraca keuangannya. Angka itu menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya bertumpu pada aset digital, tetapi juga menempatkan sebagian cadangannya pada instrumen yang dianggap lebih tahan menghadapi tekanan pasar.
Di saat banyak pelaku pasar masih membaca arah suku bunga, inflasi, dan ketegangan geopolitik, Tether justru memperkuat posisinya pada aset yang secara tradisional dipilih saat ketidakpastian meningkat. Ini membuat strategi perusahaan terlihat semakin jelas: menjaga fondasi bisnis kripto, sambil membuka ruang lebih besar bagi emas sebagai bagian dari pertahanan nilai.
Permintaan Emas Naik, Token XAUt Ikut Terangkat
Minat terhadap emas memang sedang menguat. Sepanjang tahun ini, investasi emas global dilaporkan tumbuh 46%, didorong ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi yang belum benar-benar reda di banyak negara. Dalam kondisi seperti itu, emas kembali diposisikan sebagai tempat berlindung ketika pasar keuangan bergerak liar.
Dampaknya juga terasa pada token emas XAUt milik Tether. Kapitalisasi pasarnya dilaporkan berlipat ganda sepanjang periode tersebut, menurut data CoinGecko. Kenaikan ini menunjukkan bahwa ketertarikan pasar tidak hanya berhenti pada emas fisik, tetapi juga merembet ke versi digitalnya yang menawarkan eksposur serupa dalam format berbasis blockchain.
Di Tengah Ekspansi Emas, Tether Tetap Jaga Mesin Utama USDT
Meski agresif masuk ke emas, Tether tidak meninggalkan bisnis intinya. Perusahaan disebut juga tengah berupaya menghimpun dana hingga USD 20 miliar atau sekitar Rp 331,42 triliun untuk memperkuat operasi utama stablecoin USDT. Jika target itu tercapai, valuasi perusahaan diperkirakan mendekati USD 500 miliar atau sekitar Rp 8.285 triliun.
Pergerakan ini muncul ketika lebih dari 80 perusahaan treasury aset digital telah terbentuk sepanjang 2025. Banyak di antaranya memakai skema merger terbalik atau struktur SPAC untuk meniru langkah publik yang lebih dulu populer lewat taruhan Bitcoin ala Strategy Inc. Dalam lanskap tersebut, Tether tampak memilih strategi yang lebih lebar: mempertahankan dominasi di stablecoin, sekaligus membangun posisi yang makin serius di aset tradisional yang kembali diburu pasar.
Atribusi sumber: informasi dalam artikel ini merujuk pada data dan laporan yang dikutip dari sumber asli berita.





