Tekanan di pasar Bitcoin belum menunjukkan tanda mereda. Setelah sempat melesat ke level tertinggi, aset kripto terbesar itu kini bergerak di bawah bayang-bayang ketidakpastian global dan gelombang likuidasi yang masih besar. Di saat banyak investor ritel menunggu apakah “Uptober” masih bisa menyelamatkan sentimen, justru muncul sinyal bahwa para investor besar atau “paus” mulai menghadapi fase yang lebih rentan. Kondisi ini membuat arah pasar semakin sulit ditebak, terlebih harga Bitcoin sudah terkoreksi dari puncak USD 126.198.
Paus Bitcoin mulai tertekan
CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, menyoroti rasio keuntungan yang belum terealisasi milik investor besar Bitcoin. Menurut dia, indikator tersebut kini mengarah ke kondisi rugi, yang berarti banyak paus baru tidak lagi berada di zona nyaman setelah reli sebelumnya. Situasi seperti ini kerap menjadi perhatian pasar karena aksi beli atau jual dari kelompok besar bisa mendorong pergerakan harga secara signifikan.
Perubahan pada indikator itu juga memberi sinyal bahwa fase euforia mulai memudar. Dalam pasar kripto, ketika pemain besar mulai mencatat posisi yang tidak lagi menguntungkan di atas kertas, volatilitas biasanya ikut meningkat. Dampaknya bisa terasa cepat, baik dalam bentuk tekanan jual maupun pergeseran strategi menunggu momentum baru.
Sinyal rugi tak selalu berarti penurunan panjang
Meski begitu, kondisi merugi di kalangan investor besar tidak otomatis berujung pada pelemahan berkepanjangan. Ki Young Ju mengingatkan bahwa pada periode sebelumnya, indikator serupa justru memicu akumulasi besar-besaran. Dari situ, harga Bitcoin kemudian terdorong naik dan bahkan menembus rekor baru.
Artinya, zona rugi bagi para paus bisa menjadi pemicu dua arah: sebagian pelaku pasar memilih menahan posisi sambil menunggu pemulihan, sementara yang lain justru memanfaatkan koreksi untuk menambah kepemilikan. Karena itu, sinyal ini belum bisa dibaca sebagai tanda pasti bahwa Bitcoin akan terus jatuh.
Sejarah pasar mengingatkan risiko tetap besar
Namun riwayat pasar juga menunjukkan sisi yang lebih gelap. Pada Februari 2022, Bitcoin dan pasar kripto sempat tertekan tajam setelah indikator kembali masuk ke zona merugi. Momen itu menjadi pengingat bahwa kondisi serupa bisa saja berujung pada tekanan lanjutan, terutama jika sentimen makro dan likuiditas pasar ikut melemah.
Seperti dilaporkan dalam analisis CryptoQuant, sinyal ini belum cukup untuk menentukan arah pasar. Tetapi, bagi investor, pesan utamanya jelas: ruang gerak Bitcoin sedang sensitif, dan perubahan sikap para paus dapat menjadi penentu apakah pasar sedang menuju fase akumulasi baru atau justru memasuki babak koreksi yang lebih dalam.
Dalam situasi seperti ini, keputusan terkait aset kripto tetap perlu didasarkan pada analisis masing-masing, karena risiko keuntungan maupun kerugian sepenuhnya berada pada pembaca.





