Deteksi Dini Kanker Payudara Tak Hanya Menyelamatkan Nyawa, tapi Juga Menekan Beban Sosial dan Ekonomi
Kanker payudara masih menjadi salah satu ancaman kesehatan paling serius bagi perempuan. Namun, persoalan ini tidak berhenti pada angka kesakitan dan kematian semata. Di balik diagnosis yang datang terlambat, ada beban sosial, psikologis, dan ekonomi yang ikut menekan pasien, keluarga, hingga layanan kesehatan. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah yang jauh lebih penting daripada sekadar pemeriksaan rutin; ia menentukan seberapa besar risiko yang harus ditanggung di kemudian hari.
Beban Kasus Masih Besar di Dunia dan Indonesia
Data GLOBOCAN, Global Cancer Observatory, dan World Cancer Research Fund tahun 2022 menunjukkan sekitar 2,3 juta kasus baru kanker payudara terjadi setiap tahun. Angka itu setara dengan 11,6 persen dari seluruh kasus kanker pada perempuan. Sementara itu, kematian akibat penyakit ini mencapai 666.000 kasus atau 6,9 persen dari total kematian kanker pada perempuan.
Di Indonesia, situasinya juga belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Kasus kanker payudara terus meningkat dari tahun ke tahun dan tetap menjadi perhatian utama dalam penanganan penyakit tidak menular. Tren ini memperlihatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada pengobatan, tetapi juga pada kemampuan sistem kesehatan menemukan kasus sejak awal.
Deteksi Dini Menentukan Peluang Pengobatan
Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, menegaskan bahwa kanker payudara membawa dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar gangguan medis pada tubuh pasien. Menurutnya, penyakit ini ikut menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang besar.
Masalah utama terletak pada keterlambatan deteksi. Banyak pasien baru datang memeriksakan diri ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Pada fase tersebut, pengobatan menjadi lebih sulit, biaya yang dibutuhkan cenderung lebih besar, dan peluang keberhasilan terapi biasanya menurun. Inilah alasan mengapa deteksi dini diposisikan sebagai kunci penting dalam strategi penanganan kanker payudara.
Untuk menjawab tantangan itu, Kementerian Kesehatan telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker 2024-2034. Salah satu fokus utamanya adalah memperkuat skrining dan deteksi dini agar kasus bisa ditemukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi lebih berat.
Akses Skrining Masih Terbatas
Meski berbagai upaya sudah dijalankan, cakupan skrining kanker payudara di Indonesia masih tergolong rendah. Dari sekitar 3.000 rumah sakit, baru kurang lebih 200 yang memiliki alat mammografi. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses pemeriksaan masih menjadi pekerjaan besar yang harus segera dibenahi.
Pemerintah berkomitmen menambah fasilitas mammografi hingga 2024 serta memperluas edukasi deteksi dini melalui SADARI dan SADANIS. Di tengah keterbatasan akses itu, pemeriksaan mandiri menjadi langkah yang semakin relevan untuk membantu perempuan lebih peka terhadap perubahan pada payudara.
Pemeriksaan Mandiri Jangan Dianggap Sepele
Dr. Agnes dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi mengingatkan bahwa pemeriksaan payudara sendiri secara rutin dapat membantu mengenali perubahan sejak awal. Langkah ini memang sederhana, tetapi justru sering menjadi pintu pertama untuk menemukan gejala yang tidak biasa. Semakin cepat perubahan dikenali, semakin besar peluang kanker tidak terlanjur diketahui saat kondisinya sudah sulit ditangani.





