Optimalkan Hidup Tanpa Kebingungan

by -231 Views

JAKARTA — Kisah Bani Israil pada masa Nabi Musa AS sering dibaca sebagai cerita mukjizat, tetapi di dalamnya juga tersimpan pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: tidak semua pertanyaan membuat urusan menjadi lebih jelas. Dalam riwayat yang dibahas Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya, satu perintah yang awalnya sederhana justru berubah panjang karena sikap terlalu banyak bertanya.

Perkara Pembunuhan yang Membawa Bani Israil Menghadap Nabi Musa

Menurut penjelasan sejumlah ulama seperti Ibnu Abbas, Ubaidah As-Salmani, Abu Aliyah, Mujahid, As-Suddi, dan ulama salaf lainnya, kisah ini bermula dari seorang lelaki tua kaya di kalangan Bani Israil. Ia memiliki sejumlah keponakan, namun sebagian dari mereka justru berharap sang paman segera meninggal. Dalam salah satu riwayat, seorang keponakan membunuhnya lalu membuang jasadnya di persimpangan jalan. Riwayat lain menyebut jasad itu dibiarkan di rumah keponakan yang lain.

Perselisihan tersebut kemudian dibawa kepada Nabi Musa AS. Beliau memohon petunjuk kepada Allah, lalu turun perintah agar mereka menyembelih seekor sapi betina. Di titik ini, penyelesaian yang semestinya bisa berjalan cepat malah menjadi rumit karena mereka tidak langsung menerima arahan itu dengan lapang.

Ketika Pertanyaan Berulang Justru Menambah Beban

Alih-alih segera mencari dan menyembelih sapi yang dimaksud, Bani Israil malah mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Mereka meminta rincian tentang usia sapi, warnanya, hingga sifat-sifatnya. Setiap jawaban Nabi Musa AS tidak mengakhiri kebingungan, tetapi malah membuka ruang tanya baru.

Akibatnya, pencarian sapi itu menjadi makin sempit dan sulit. Padahal, inti perintah sudah jelas sejak awal. Apa yang seharusnya menjadi langkah taat berubah menjadi proses panjang karena mereka terus menuntut penjelasan tambahan.

Harga Mahal untuk Sebuah Keraguan

Setelah sapi yang sesuai akhirnya ditemukan, masalah belum selesai. Pemiliknya enggan menyerahkan hewan itu begitu saja. Bani Israil pun harus menawarnya dengan harga yang sangat tinggi, bahkan disebut setara emas seberat tubuh sapi tersebut. Baru setelah itu sapi diserahkan dan disembelih sesuai perintah.

Usai penyembelihan, Nabi Musa AS memerintahkan agar sebagian tubuh sapi dipukulkan ke jasad korban. Dengan izin Allah, jasad itu hidup kembali dan menyebutkan siapa pembunuhnya sebelum akhirnya meninggal lagi. Peristiwa itu menutup sengketa yang sejak awal dipenuhi tarik-ulur dan sikap tidak segera tunduk pada petunjuk.

Pesan yang Tetap Relevan Hingga Kini

Riwayat yang dinukil Ibnu Katsir ini memberi peringatan yang tajam: kebingungan kadang bukan lahir karena kurangnya petunjuk, melainkan karena manusia menolak berhenti bertanya ketika jawabannya sudah datang. Ada keadaan di mana menambah rincian justru membuat perkara makin berat.

Dalam kisah Bani Israil, perintah yang semula singkat berubah menjadi urusan panjang karena mereka tidak segera bergerak. Dari situ, pelajarannya terasa tegas: memahami arahan dengan jernih dan menjalankannya tanpa banyak membebani diri sering kali jauh lebih selamat daripada membiarkan keraguan berkembang menjadi masalah baru.