Pengakuan Helwa Bachmid soal pernikahan siri dengan Habib Bahar bin Smith kembali menyedot perhatian publik. Lewat unggahan di Instagram, Helwa membeberkan alasan mengapa ia pernah menerima pernikahan itu, sekaligus menjelaskan bagaimana harapan untuk menemukan “imam yang baik” justru berujung pada kekecewaan. Cerita yang ia sampaikan bukan sekadar soal rumah tangga, tetapi juga tentang keputusan besar yang diambil dengan keyakinan penuh tanpa cukup banyak pertimbangan.
Berangkat dari niat mencari pasangan yang baik
Helwa mengaku sejak awal memiliki niat tulus untuk mendapatkan pasangan sekaligus sosok pemimpin dalam rumah tangga yang baik. Karena keyakinan itu, ia menerima pernikahan siri tersebut. Namun, ia juga mengakui tidak melakukan pengecekan lebih jauh mengenai status maupun rekam jejak Habib Bahar. Menurut pengakuannya, ia hanya sempat melihat surat permohonan cerai satu kali, tanpa mengetahui secara rinci apakah dokumen itu benar adanya atau seperti apa latar belakangnya.
Sempat menolak, lalu luluh setelah dirayu
Dalam penuturannya, Helwa menyebut sempat menolak lamaran itu. Meski demikian, perlakuan Habib Bahar yang merayu dan memberi perhatian membuat sikapnya berubah. Ia menegaskan bahwa keputusannya menikah bukan karena tergoda janji-janji manis, melainkan karena percaya pada niat baik yang ia pegang saat itu. Dari sini terlihat bagaimana perasaan, harapan, dan rasa percaya bisa membuat seseorang mengesampingkan kewaspadaan yang semestinya tetap dijaga.
Janji setelah menikah, lalu soal rujuk terungkap
Setelah pernikahan berlangsung, Habib Bahar disebut sempat memberikan janji kepada ibunda Helwa, termasuk soal mobil, umrah, dan rumah. Namun, Helwa kemudian mengungkap bahwa hanya sehari setelah menikah, Habib Bahar mengaku telah kembali rujuk dengan istri pertamanya. Pengakuan itu membuat kisah yang sebelumnya tampak sebagai jalan menuju rumah tangga baru justru berubah menjadi sumber tanda tanya besar.
Dalam unggahan yang dikutip dari akun Instagram Helwa, ia juga menyebut adanya manipulasi dalam proses tersebut. Tak heran jika cerita ini kembali memancing sorotan, sebab publik bukan hanya menyoroti isi pengakuannya, tetapi juga cara sebuah keputusan pribadi bisa bergeser menjadi pengalaman pahit ketika informasi penting tidak terbuka sejak awal.
