Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan berat setelah anjlok di bawah level USD 87.000 atau sekitar Rp 1,45 miliar pada Kamis malam, 20 November 2025. Koreksi kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar (BTC) ini berlanjut pada Jumat pagi, 21 November 2025. Penurunan harga bitcoin telah memicu aksi jual besar-besaran dari investor besar (whale) mencapai USD 1,3 miliar, yang diperparah dengan kepanikan pasar terkait isu keamanan komputasi kuantum. Hal ini juga memicu gelombang likuidasi senilai lebih dari USD 220 juta atau Rp 3,6 triliun untuk posisi long, serta meningkatnya volatilitas pasar.
Analis pasar menilai bahwa kekhawatiran terkait komputasi kuantum terhadap Bitcoin terlalu berlebihan, karena teknologi kriptografi Bitcoin yang berbasis SHA-256 memiliki kekuatan yang cukup kuat. Fyqieh Fachrur, analis dari Tokocrypto, menegaskan bahwa risiko tersebut masih pada level teoretis dan tidak mendesak. Selain itu, situasi pasar semakin tertekan setelah early adopter Bitcoin sejak 2011, Owen Gunden, menjual seluruh kepemilikannya BTC sebanyak 11.000 BTC.
Meskipun harga bitcoin mengalami penurunan yang signifikan, ada beragam pandangan yang berbeda terkait prediksi harga ke depan. Analis Bitcoin tetap optimis dan menyebut kepanikan sebagai lebih bersifat psikologis daripada teknis. Dengan adanya berbagai peristiwa yang memengaruhi harga Bitcoin, seperti isu-isu keamanan dan aksi jual besar-besaran, pasar kripto terus mengalami fluktuasi yang signifikan. Selain itu, komunitas kripto global tetap waspada terhadap isu-isu yang dapat mempengaruhi nilai Bitcoin di masa mendatang.





