Pasar kripto mengalami penurunan signifikan selama sepekan terakhir, termasuk kripto papan atas seperti bitcoin (BTC) yang mengalami penurunan harga di bawah USD 90.000. Data Coinmarket menunjukkan bahwa harga bitcoin turun 1,85% dalam 24 jam terakhir dan merosot 11,04% selama seminggu terakhir, dengan harga saat ini berada di sekitar USD 84.852 atau sekitar Rp 1,41 miliar.
Menurut analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrus, prospek harga bitcoin hingga akhir 2025 sangat dipengaruhi oleh arah pasar global, likuiditas, dan respons investor institusi. Dalam skenario bullish, bitcoin memiliki potensi untuk mencapai kisaran harga USD 100.000-USD 120.000 dengan asumsi aliran dana ke exchange traded fund (ETF) yang kuat, perbaikan kondisi makro, dan efek halving yang menciptakan tekanan suplai positif.
Di sisi lain, dalam skenario bearish, harga bitcoin dapat stagnan atau bahkan mengalami penurunan hingga kisaran USD 60.000-USD 70.000 jika tekanan makro ekonomi berlanjut dan arus keluar dari ETF tidak berkurang. Faktor seperti suku bunga tinggi, inflasi yang meningkat, atau regulasi yang lebih ketat dapat menjadi hambatan bagi pemulihan harga bitcoin.
Fachrur juga menekankan bahwa likuiditas pasar, dukungan teknis yang penting, dan faktor-faktor eksternal seperti makro global, arus dana institusional, dan dinamika pasar kripto akan menjadi penentu harga bitcoin hingga akhir 2025. Dalam situasi di mana pasar tetap tipis dan support teknikal tidak terjaga, kemungkinan terjadi koreksi harga yang dapat menghambat pertumbuhan maksimal bitcoin.





