Puluhan keluarga korban serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel mengajukan gugatan terhadap Binance, platform perdagangan kripto terbesar di dunia, atas tuduhan mentransfer dana untuk mendukung aktivitas teroris. Gugatan ini disampaikan di pengadilan Distrik AS North Dakota setelah pemimpin Binance, Changpeng Zhao, menerima pengampunan dari Presiden Donald Trump karena masalah pencucian uang. Para penggugat menuduh Zhao dan rekan bisnisnya merancang Binance sebagai entitas kriminal yang memfasilitasi pencucian uang global dengan mengetahui dan membiarkan transaksi teroris seperti Hamas dilakukan di platform mereka.
Penggugat, yang merupakan warga negara AS dan memiliki keluarga korban, menuntut ganti rugi besar yang bisa mencapai tiga kali lipat sesuai undang-undang korban terorisme internasional. Mereka menegaskan bahwa Binance sengaja memberikan layanan keuangan kepada Hamas dan menghindari pengawasan regulator AS. Gugatan juga mencatat bahwa setelah serangan 7 Oktober, Binance masih memfasilitasi transaksi senilai lebih dari $50 juta dolar AS untuk kelompok teror seperti Hamas, IRGC, Hizbullah, dan PIJ di blockchain publik.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa pihak yang terkena dampak langsung kegiatan teroris berusaha menegakkan keadilan dan akuntabilitas terhadap entitas yang dapat memfasilitasi kegiatan ilegal seperti pencucian uang untuk kelompok teroris. Hal ini juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap undang-undang dan regulasi yang ada untuk mencegah penyalahgunaan platform keuangan untuk tujuan kriminal.





