Polemik Kebijakan Hutan Menguat Seiring Bencana Berlangsung

by -41 Views

Belakangan, bencana banjir dan longsor terjadi di sejumlah daerah di Sumatera, mencakup Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Peristiwa ini bukan hanya menimbulkan banyak korban jiwa, tetapi juga mengacaukan akses jalan serta mengganggu komunikasi masyarakat. Menyikapi situasi ini, Pemerintah Aceh mengumumkan status darurat bencana selama dua minggu, dimulai pada 28 November sampai dengan 11 Desember 2025, guna mempercepat penanganan korban dan pemulihan.

Namun, di tengah duka bencana, media sosial justru ramai memperdebatkan penyebab bencana tersebut dan menyorot salah satu nama pejabat pemerintah, yaitu Zulkifli Hasan yang saat ini menjabat Menko Pangan. Isu ini ramai setelah sejumlah akun media sosial, salah satunya akun Instagram Balqis Humaira, melontarkan kritik tajam. Dalam unggahan tersebut, Balqis menyebut nama Zulkifli Hasan langsung, menuding bahwa bencana yang melanda Sumatera terjadi karena berbagai kebijakan, izin, serta regulasi yang pernah dikeluarkan oleh pejabat pemerintah di masa lalu.

Balqis secara spesifik menyinggung rusaknya kawasan hutan di Sumatera yang dikaitkan dengan kebijakan semasa Zulkifli Hasan menjabat sebagai Menteri Kehutanan beberapa tahun silam. Kehancuran hutan secara besar-besaran, menurut Balqis dan banyak aktivis lingkungan, membuka jalan bagi terjadinya banjir serta longsor yang berulang. Ia juga memaparkan hilangnya hutan konservasi seperti Taman Nasional Tesso Nilo, yang menurutnya dahulu memiliki sekitar 83 ribu hektare, kini hanya tersisa kenangannya saja. Alih-alih menjadi kawasan konservasi, areal Tesso Nilo kini justru didominasi perkebunan sawit ilegal yang merambah liar dari berbagai penjuru.

Perdebatan tentang deforestasi ini bukanlah hal baru yang menerpa Zulkifli Hasan. Pada periode antara tahun 2009 hingga 2014, saat ia menjabat sebagai Menteri Kehutanan, berbagai keputusan dan izin pembukaan lahan kerap dianggap kontroversial oleh berbagai pihak, terutama para pemerhati lingkungan hidup. Salah satu kasus paling menonjol adalah perubahan dramatis di kawasan Tesso Nilo yang menjadi perhatian internasional.

Peristiwa yang melibatkan aktor terkenal, Harrison Ford, dalam sebuah dokumenter tahun 2013 juga kembali mencuat di dunia maya. Dalam video tersebut, Harrison Ford terlihat mewawancarai Zulkifli Hasan dan secara blak-blakan mengkritik lemahnya penegakan hukum terhadap deforestasi yang masif terjadi di Indonesia, khususnya di Tesso Nilo. Video lawas itu kini viral lagi di tengah suasana bencana banjir dan longsor yang menimpa Sumatera, menjadi pengingat atas kelalaian pengelolaan lingkungan.

Tak sedikit pula warganet yang menyebarluaskan potongan-potongan video ataupun unggahan bernada serupa. Salah satunya akun @voxnetizens menulis bahwa bencana yang terjadi di Sumatera ini adalah akibat akumulasi keputusan manusia yang abai terhadap lingkungan, bukan sekadar fenomena alam semata. Akun tersebut menyoroti bahwa pihak yang menerima keuntungan besar dari eksploitasi sawit adalah manusia, dan mereka jugalah yang dianggap memperlonggar izin pembukaan lahan hingga berdampak buruk terhadap ekosistem.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin kritis dalam mengaitkan bencana lingkungan dengan kebijakan pemerintah terdahulu. Tagar serta perdebatan di dunia maya tak hanya menyoroti korban dan tanggap darurat, melainkan juga menuntut pertanggungjawaban atas kerusakan lingkungan yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Masyarakat mengingatkan kembali pentingnya peran pemimpin dalam menjaga alam agar tragedi serupa tidak terus berulang di masa mendatang.

Sumber: Zulkifli Hasan Disorot Soal Banjir Sumatera, Warganet Ungkit Teguran Harrison Ford Soal Kerusakan Hutan
Sumber: Zulkifli Hasan Dituding Jadi Penyebab Banjir Sumatera, Warganet Ungkit Momen Zulhas Diomeli Harrison Ford Soal Rusaknya Hutan