Transparansi menjadi sorotan utama dalam perdebatan seputar Tether. Attestations yang dilaporkan sebelumnya hanya menyoroti cadangan USDT tanpa memberikan gambaran menyeluruh mengenai aset perusahaan secara keseluruhan dan seberapa cepat aset tersebut bisa dicairkan dalam situasi krisis. Kemampuan Tether untuk mengakses seluruh aset tambahan dengan cepat menjadi penentu kesiapan perusahaan menghadapi goncangan pasar. Namun, ketika aset tersebut tidak likuid atau tersebar di berbagai unit usaha, volatilitas pasar masih mampu memberikan tekanan terhadap kemampuan Tether dalam menukarkan USDT.
Berdasarkan angka-angka yang beredar, Tether diklaim memiliki aset senilai USD 120 miliar dalam bentuk Treasuries dan klaim ekuitas sebesar USD 30 miliar dari manajemen. Sementara itu, perkiraan dari Joseph bahkan menyebutkan angka mencapai USD 50–100 miliar. Namun, tanpa pengungkapan penuh terkait struktur cadangan dan akses likuiditas, pasar tetap kesulitan untuk memastikan apakah bantalan Tether benar-benar sebanding dengan kewajibannya yang masif. Ini menimbulkan praduga dan ketidakpastian yang dapat mengganggu kepercayaan pasar terhadap Tether.





