Karyawan Berprestasi Lebih Memilih Lingkungan Kerja yang Sehat daripada Gaji Tinggi
Seiring perkembangan zaman, sebuah riset menunjukkan bahwa untuk mempertahankan karyawan berprestasi, perusahaan tidak hanya cukup menaikkan gaji atau memberikan bonus tambahan. Sejumlah riset global mengungkap bahwa faktor materi bukan lagi alasan utama seseorang bertahan di dalam suatu perusahaan. Justru, kualitas hubungan antarmanusia di tempat kerja memiliki dampak yang lebih besar terhadap loyalitas karyawan.
Penelitian yang dilakukan oleh MIT Sloan Management Review melalui laporan berjudul “Toxic Culture is Driving the Great Resignation” menunjukkan bukti kuat bahwa budaya kerja yang toxic jauh lebih berpengaruh terhadap keputusan karyawan untuk keluar dari perusahaan daripada faktor kompensasi finansial. Banyak karyawan rela menerima gaji lebih rendah asalkan bisa bekerja dalam lingkungan kerja yang lebih sehat dan memberikan ketenangan mental.
Selain itu, hubungan dengan rekan kerja juga memegang peranan penting. Dukungan sosial di tempat kerja terbukti sebagai salah satu penangkal stres kerja paling efektif, sedangkan konflik interpersonal dengan rekan kerja dapat berdampak negatif pada kesehatan mental karyawan. Kehadiran pekerjaan yang toxic juga dapat menurunkan produktivitas sebuah tim atau departemen hingga 30-40 persen, menurut data dari Harvard Business Review.
Budaya kerja yang buruk tidak hanya merugikan kesehatan mental karyawan, tetapi juga merugikan perusahaan secara keseluruhan. Biaya rekrutmen untuk mengganti karyawan yang memilih pergi karena lingkungan kerja yang tidak sehat dapat mencapai miliaran dolar. Oleh karena itu, membangun lingkungan kerja yang sehat dan mendukung merupakan langkah yang penting bagi perusahaan untuk mempertahankan karyawan berprestasi.





