Selama lebih dari satu dekade, Iran berada di bawah sanksi ketat dari Amerika Serikat dan Uni Eropa. Sanksi ini telah memutus akses Iran ke sistem keuangan internasional, termasuk jaringan SWIFT, membuat transaksi bernilai besar di sektor pertahanan sulit dilakukan melalui jalur perbankan konvensional. Kripto menjadi alternatif karena sifatnya yang terdesentralisasi dan memungkinkan transaksi lintas negara tanpa bank tradisional. Analis dari Center for a New American Security (CNAS) melihat aset digital dapat digunakan untuk menghindari pengawasan keuangan konvensional, potensial melemahkan sanksi ekonomi yang diterapkan sebelumnya.
Transaksi senjata bernilai jutaan dolar menggunakan kripto bukanlah hal yang sederhana. Biasanya, nilai transaksi dipegang pada stablecoin seperti Tether (USDT) atau Bitcoin untuk mengurangi volatilitas harga. Pihak terlibat harus menyediakan dompet digital khusus dan bahkan menggunakan teknik penyamaran transaksi untuk menyembunyikan jejak di blockchain. Perusahaan analisis blockchain Chainalysis mencatat, walaupun transaksi kripto bersifat terbuka, penggunaan teknik lapisan dapat membuat pelacakan menjadi lebih sulit. Situasi ini memberikan keuntungan bagi pihak yang ingin menghindari pengawasan yang ketat.





