Menjelang bulan suci Ramadan, umat Islam disarankan untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin, termasuk mengganti utang puasa Ramadan dari tahun sebelumnya. Pembahasan mengenai qadha puasa biasanya intens saat memasuki bulan Sya’ban sebagai masa persiapan terakhir sebelum puasa Ramadan. Banyak yang mempertanyakan batas waktu penggantian utang puasa dan konsekuensinya jika tidak ditunaikan hingga Ramadan tiba.
Menurut NU Online, tidak ada ketentuan yang secara tegas membatasi waktu penggantian utang puasa Ramadan di bulan Sya’ban. Bagi orang yang meninggalkan puasa karena uzur syar’i, seperti sakit, qadha puasa masih dapat dilakukan hingga akhir bulan Sya’ban. Namun, sebagian ulama menyarankan agar qadha puasa setelah Nisfu Sya’ban dihindari untuk menghindari gangguan pada kesiapan menjalankan puasa wajib.
Selain soal waktu qadha puasa, ada tambahan ketentuan bagi kelompok tertentu yang menunda penggantian utang puasa. Orang yang membatalkan puasa demi kepentingan pihak lain atau yang menunda qadha puasa karena kelalaian harus mengqadha puasa dan membayar fidyah sebagai tambahan atas puasa yang ditinggalkan. Kewajiban fidyah tersebut tidak gugur dan terus bertambah setiap Ramadan berlalu selama utang puasa belum diselesaikan.
Fidyah umumnya dihitung berdasarkan ukuran satu mud bahan makanan pokok. Menurut mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, satu mud setara dengan 543 gram bahan makanan pokok, sedangkan menurut mazhab Hanafiyah, satu mud setara dengan 815,39 gram. Jadi, untuk memastikan semua kewajiban ibadah terpenuhi sebaiknya melakukan penggantian utang puasa sebelum Ramadan tiba.





