Industri kripto di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang terbuka lebar pada tahun 2026. Diperkirakan penetrasi kripto baru sekitar 7% dari populasi, dan jika kondisi pasar global kondusif serta minat terhadap aset berisiko kembali memperkuat, CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menyatakan bahwa pertumbuhan adopsi bisa lebih cepat. Dalam skenario optimistis, jumlah investor kripto nasional berpotensi bertambah sekitar 7-8 juta, mendekati total 26-27 juta investor. Pada skenario yang lebih moderat, tambahan sekitar 4-5 juta investor juga bisa mendorong total investor mencapai 23-24 juta hingga akhir tahun 2026.
Dari sisi aktivitas, basis transaksi yang kuat sepanjang tahun 2025 membuka peluang peningkatan nilai transaksi pada tahun 2026, seiring dengan minat masyarakat terhadap investasi dan trading aset kripto. Total nilai transaksi sepanjang tahun 2025 (YTD) hingga November tercatat sebesar Rp 446,77 triliun, mengalami penurunan sebesar 19,72% (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Calvin berharap tahun 2026 menjadi momentum pembalikan, di mana nilai transaksi meningkat kembali seiring dengan pasar yang semakin matang dan partisipasi pengguna yang lebih berkualitas.
Selain pertumbuhan angka, fokus industri ke depan juga akan ditekankan pada kualitas pengguna, edukasi, keamanan, dan keberlanjutan ekosistem agar pertumbuhan tetap terjaga dalam jangka panjang. Calvin mengamati pasar aset kripto Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan tanda-tanda pendewasaan yang semakin kuat, dengan aktivitas pasar yang tidak lagi semata-mata dipacu oleh euforia bull market, melainkan menuju fase konsolidasi.





