Pelantikan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) memicu beragam respons dari masyarakat. Sebagai seorang musisi dan intelektual yang terkenal dengan kritiknya terhadap kebijakan pemerintah, keikutsertaannya dalam struktur pemerintahan dianggap oleh sebagian orang dapat mengancam independensinya. Noe Letto merespons kekhawatiran ini dengan menjelaskan bahwa perannya sebagai Tenaga Ahli tidak terkait langsung dengan pembuatan kebijakan negara. Tugas utamanya adalah memberikan masukan, menyusun rekomendasi, dan menganalisis situasi strategis yang relevan dengan Dewan Pertahanan Nasional.
Meskipun demikian, Noe Letto memahami kecemasan publik tentang kehilangan pandangan kritisnya setelah bergabung dengan pemerintahan. Beliau melihat penunjukan ini sebagai bagian dari eksperimen besar untuk mengubah cara pejabat berinteraksi dengan masyarakat. Noe berpendapat bahwa posisi Tenaga Ahli lebih independen daripada jabatan politik yang didapat melalui partai, yang kemudian membuktikan dengan mengambil risiko secara langsung. Selain itu, Noe berencana memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk membangun koneksi yang hilang antara pemerintah dan masyarakat. Dia akan meluncurkan platform yang memungkinkan masyarakat menentukan kriteria pejabat ideal versi mereka. Dengan demikian, Noe berkomitmen untuk menjadi pejabat yang memenuhi kriteria yang disetujui oleh rakyat dengan bantuan teknologi AI untuk memastikan komunikasi yang efektif tanpa adanya emosi.





