Analisis menunjukkan bahwa meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian fiskal di Amerika Serikat telah mendorong para investor untuk beralih ke emas daripada pasar kripto. Hal ini terlihat dari pergerakan bitcoin yang cenderung stagnan sementara harga emas mencapai level psikologis USD 5.000 per troy ounce. Data dari Coinmarketcap.com menunjukkan bahwa harga bitcoin naik 0,30% dalam 24 jam terakhir namun mengalami penurunan sebesar 3,43% dalam seminggu terakhir, mencapai posisi USD 87.767 atau sekitar Rp 1,47 miliar. Sementara itu, harga Ethereum juga mengalami kenaikan namun tetap terpangkas 6,05% dalam seminggu terakhir, berada di posisi USD 2.903 atau sekitar Rp 48,70 juta. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan naik 0,2% menjadi USD 2,98 triliun atau sekitar Rp 49.992 triliun dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, harga emas mengalami lonjakan melebihi level psikologis USD 5.000 per troy ounce yang didorong oleh aksi borong bank sentral, ketegangan geopolitik, dan pelemahan dolar Amerika Serikat. Dalam setahun terakhir, harga emas telah naik hingga 83%. Menurut Financial Expert Ajaib Panji Yudna, harga bitcoin cenderung stagnan di kisaran USD 87.000-USD 88.000 dengan penurunan secara year over year sebesar 17% dan koreksi 30% dari puncaknya pada Oktober sebesar USD 126.000. Sebagai disclaimer, pembaca diingatkan bahwa setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pembaca sendiri dan Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul dari keputusan investasi.
Ini Penyebab Harga Bitcoin Bertahan di Rp 1,4 Miliar Saat Emas USD 5.000





