Harga bitcoin (BTC) mengalami tekanan pada perdagangan Jumat sore, (30/1/2026) pukul 16.18 WIB. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi risiko geopolitik, shutdown pemerintah AS, dan faktor makro ekonomi. Data Coinmarketcap.com mencatat bahwa harga bitcoin (BTC) turun 6,22% dalam 24 jam terakhir dan 7,39% selama seminggu terakhir, saat ini berada di posisi USD 82.425,16 atau Rp 1,38 miliar.
Sementara itu, harga Ethereum (ETH) juga mengalami penurunan sebesar 7,44% dalam 24 jam terakhir dan 6,88% selama seminggu terakhir, dengan posisi saat ini berada di USD 2.725 atau Rp 45,74 juta. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan juga mengalami penurunan 5,89% menjadi USD 2,81 triliun atau Rp 47.167 triliun.
Bitcoin jatuh di bawah USD 83.388, mencapai level terendah sejak November, sementara altcoin utama seperti Ethereum, solana, dan dogecoin turut melemah lebih dari 7%. Analisis dari Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, menunjukkan bahwa kondisi ini mengindikasikan sensitivitas kripto terhadap sentimen risk-off global. Penurunan harga juga memicu likuidasi pasar aset kripto dengan lebih dari USD 1 miliar posisi terhapus dalam 24 jam terakhir.
Faktor-faktor penyebab tekanan pasar ini antara lain adalah risiko geopolitik, ancaman shutdown pemerintah AS, serta cuaca musim dingin ekstrem di Amerika Utara. Hal ini terlihat dari eskalasi ketegangan antara AS dan Iran, serta kondisi cuaca yang tidak biasa. Tekanan di pasar kripto dipicu oleh kombinasi faktor-faktor ini, yang berdampak pada fluktuasi harga dan likuiditas pasar kripto secara keseluruhan.





