Harga Bitcoin (BTC) hari ini mengalami pelemahan di bawah USD 90.000 setelah Federal Reserve (The Fed) merilis pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC) Januari 2026 yang menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen. Keputusan ini tidak mengejutkan pasar tetapi menyebabkan respons negatif pada aset berisiko termasuk kripto.
Berdasarkan data pasar global, Bitcoin sempat naik di atas level USD 90.000 sehari sebelumnya didorong oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang tidak khawatir terhadap penurunan dolar AS. Namun, arus dana institusional juga menunjukkan sikap lebih berhati-hati dengan arus keluar pada produk spot Bitcoin ETF di AS senilai USD 147.37 juta.
VP Indodax Antony Kusuma mengungkapkan bahwa pergerakan ini adalah respons pasar terhadap kebijakan moneter yang sudah diantisipasi sebelumnya. Dia juga menegaskan bahwa volatilitas jangka pendek pasca pengumuman kebijakan moneter adalah hal yang umum terjadi di pasar kripto global.
Sementara itu, sentimen positif muncul dari adopsi pemerintah dan institusional, dengan negara bagian AS, South Dakota, mengajukan RUU pembentukan cadangan Bitcoin yang berasal dari pendapatan pemerintah negara bagian.
Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca. Mereka harus melakukan riset dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang diambil.





