Setelah makan, keinginan untuk duduk atau berbaring sering kali muncul, terutama setelah menyantap makanan berat. Namun, melawan rasa kantuk atau food coma yang membuat tubuh terasa lemas dan mengantuk bisa menjadi tantangan. Meskipun duduk atau bersantai setelah makan terasa nyaman, namun dari segi kesehatan, kebiasaan sederhana ini sebenarnya bisa menimbulkan masalah jangka panjang.
Dr. Alessia Roehnelt, seorang dokter endokrinologi asal New Jersey, mengungkapkan dampak dari kebiasaan duduk setelah makan. Ia menjelaskan alasan klinisnya dalam unggahan di Instagram. Ia juga menyoroti kelompok tertentu, seperti orang dengan pra-diabetes, diabetes, atau resistensi insulin, yang akan mendapat manfaat besar jika bisa menghindari kebiasaan tersebut.
Menurut penjelasan dari laman Hindustan Times, duduk setelah makan tidak dianjurkan karena bisa mengganggu proses pencernaan. Sebaliknya, bergerak sedikit seperti berjalan setelah makan dapat membantu tubuh dalam mencerna makanan lebih efisien. Hal ini merangsang perut dan usus untuk memproses makanan dengan lebih cepat, sehingga dapat mengurangi perut kembung, gas, dan rasa berat setelah makan.
Selain itu, berjalan setelah makan berdampak pada pengelolaan gula darah. Saat berjalan, otot-otot menjadi aktif dan membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Hal ini bisa membantu orang dengan masalah sensitivitas insulin, seperti resistensi insulin, diabetes, atau pra-diabetes, dalam mengatur lonjakan gula darah dengan lebih baik. Jadi, kegiatan berjalan setelah makan sebenarnya memiliki manfaat yang signifikan untuk kesehatan dan kesejahteraan tubuh.





