Dalam analisis terkini, Adler memfokuskan pada dua indikator utama yang mengukur hubungan antara Bitcoin dan S&P 500. Pertama, korelasi 13 minggu antara kedua aset tersebut menunjukkan sejauh mana pergerakan keduanya berjalan seiring dalam jangka pendek. Saat ini, korelasi tersebut telah berubah menjadi negatif, mengindikasikan bahwa pergerakan harga Bitcoin dan S&P 500 tidak lagi sinkron. Namun demikian, Adler menegaskan bahwa hal ini tidak serta-merta berarti Bitcoin mulai bergerak secara independen. Korelasi negatif dapat terjadi karena kenaikan sementara Bitcoin dan pelemahan berkelanjutan di pasar saham, yang menunjukkan bahwa Bitcoin belum sepenuhnya menunjukkan kekuatan yang lebih baik daripada saham.
Selain itu, Adler juga menggunakan indikator kedua, yaitu rasio harga BTC/S&P, yang mencerminkan performa relatif Bitcoin terhadap saham. Jika rasio ini naik, itu berarti Bitcoin mengungguli performa saham, namun jika rasio tersebut turun, Bitcoin tertinggal. Namun, sejak awal Januari 2026, rasio ini terus melemah. Dari analisis ini, Adler menyimpulkan bahwa Bitcoin masih belum sepenuhnya dianggap sebagai aset safe haven dan belum menunjukkan tren kenaikan yang berkelanjutan dibandingkan dengan pasar ekuitas. Pasar masih melihat Bitcoin sebagai aset berisiko tinggi dengan potensi penurunan yang lebih besar daripada S&P 500. Dengan demikian, sejauh ini, Bitcoin belum menunjukkan sinyal bullish yang kuat.





