Di tengah meningkatnya produksi sampah plastik nasional, pilihan jenis air minum dalam kemasan atau AMDK menjadi perhatian. Kajian akademik menunjukkan bahwa galon guna ulang PET memberikan dampak lingkungan lebih rendah dibandingkan galon sekali pakai yang langsung menjadi limbah setelah digunakan. “Hal ini merupakan salah satu upaya mengurangi sampah kemasan plastik dari produk air minum dalam kemasan (AMDK) dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan,” kata Kapokja Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Ditjen Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular KLHK, Wisti Noviani Adnin.
Galon guna ulang dirancang untuk dipakai berulang kali sehingga secara signifikan menekan timbulan sampah plastik dan emisi karbon. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK menunjukkan bahwa terdapat sekitar 36 juta ton timbulan sampah pada 2024 dihitung dari 342 kabupaten/kota, di mana 19,59 persennya merupakan sampah plastik. Seiring perkembangan waktu, angka timbulan sampah pada 2025 meningkat menjadi 25 juta ton dari 249 kabupaten/kota, dimana 20,45 persen merupakan sampah plastik.
Pemanfaatan galon guna ulang berbahan PET dianggap memiliki keunggulan ekologis yang signifikan dibandingkan dengan kemasan galon sekali pakai. Inovasi ini mampu meminimalisir volume sampah plastik, menekan emisi karbon, serta memperkuat implementasi ekonomi sirkular di Indonesia. Menurut riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, tanpa adanya galon guna ulang, tujuh dari sepuluh konsumen diperkirakan akan memilih kemasan sekali pakai yang berpotensi meningkatkan timbulan sampah plastik hingga 770.000 ton per tahun.





