Doni Salmanan Kembali Disorot, Klaim Berpenghasilan Rp150 Juta per Bulan usai Bebas
Doni Salmanan kembali menjadi bahan perbincangan publik setelah muncul lagi di media sosial usai menjalani masa hukuman dalam kasus investasi bodong. Meski statusnya belum sepenuhnya lepas karena masih berada dalam masa pembebasan bersyarat hingga Oktober 2029, ia mulai membangun aktivitas baru dan menyatakan ingin memperbaiki diri lewat karya.
Kehadiran Doni di ruang digital langsung memicu reaksi beragam. Di satu sisi, langkahnya dianggap sebagai upaya bangkit setelah jatuh. Di sisi lain, publik masih menyimpan keberatan karena namanya lekat dengan perkara investasi ilegal yang pernah merugikan banyak pihak.
Kembali Aktif di Media Sosial
Setelah mengumumkan kebebasannya kepada publik, Doni Salmanan mulai kembali aktif di media sosial. Akun Instagram miliknya kini memiliki sekitar 1,6 juta pengikut, modal besar yang tampaknya kembali ia manfaatkan untuk membangun sumber penghasilan baru.
Salah satu langkah yang ia ambil adalah membuka layanan konten eksklusif berbayar. Untuk bisa mengaksesnya, pengikut disebut perlu membayar biaya langganan Rp23 ribu per bulan. Skema ini membuat namanya kembali ramai dibahas, bukan hanya karena jumlah pengikutnya, tetapi juga karena potensi cuan yang dihasilkan.
Klaim Penghasilan Rp150 Juta per Bulan
Dari layanan tersebut, Doni disebut bisa meraup pemasukan sekitar Rp150 juta setiap bulan. Angka ini sontak menyedot perhatian karena menunjukkan bagaimana pengaruh media sosial masih bisa menjadi sumber penghasilan yang besar, bahkan setelah seseorang menjalani hukuman pidana.
Namun, besarnya pendapatan itu justru menambah panas diskusi. Sebagian orang menilai ini sebagai bentuk pemulihan ekonomi setelah menjalani hukuman. Tetapi tidak sedikit pula yang mempertanyakan etika di balik kebangkitannya, mengingat kasus yang pernah menjeratnya berkaitan dengan investasi ilegal.
Pro dan Kontra Tak Terhindarkan
Langkah Doni Salmanan kembali beraktivitas di media sosial memperlihatkan satu hal: nama besar di dunia digital masih punya daya tarik, sekalipun pernah terseret kasus serius. Tapi bagi publik, persoalannya tidak sesederhana soal kemampuan menghasilkan uang.
Di tengah upaya Doni membangun ulang citranya, bayang-bayang kasus lama tetap melekat. Karena itu, setiap langkah barunya nyaris selalu dibaca dari dua sisi sekaligus: sebagai usaha memperbaiki hidup, dan sebagai pengingat bahwa luka akibat kasus investasi bodong belum benar-benar hilang dari ingatan masyarakat.
