Nigeria Mendominasi Penggunaan Stablecoin di Afrika
Di tengah peningkatan penggunaan stablecoin, IMF mengakui bahwa token tersebut dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan inklusi keuangan dan menekan biaya transfer internasional. Namun, lembaga itu juga menyoroti sejumlah risiko yang mungkin timbul seiring dengan pertumbuhan penggunaan stablecoin.
Tantangan dalam Meningkatkan Penggunaan Stablecoin
IMF menyoroti tiga tantangan utama terkait dengan penggunaan stablecoin. Pertama, adalah potensi berkurangnya efektivitas kebijakan moneter sebuah negara akibat penerapan stablecoin yang terhubung dengan mata uang asing secara luas. Sebagai contoh, penggunaan stablecoin yang terkait dengan dolar AS dapat mengurangi permintaan terhadap mata uang lokal seperti naira di Nigeria, yang pada akhirnya membatasi kemampuan bank sentral dalam mengendalikan jumlah uang yang beredar.
Selain itu, IMF juga menyoroti melemahnya pengawasan regulasi terhadap transaksi stablecoin yang dianggap belum optimal. Sistem pengawasan keuangan saat ini belum sepenuhnya siap untuk memantau transaksi yang melibatkan stablecoin dengan baik, sehingga dapat menciptakan celah untuk aktivitas keuangan yang ilegal atau tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Pendekatan Regulasi yang Dianjurkan IMF
Meskipun mengakui bahwa larangan atau pembatasan penggunaan stablecoin mungkin tidak efektif secara keseluruhan, IMF merekomendasikan adopsi pendekatan regulasi yang lebih pragmatis. Lembaga tersebut menyarankan agar regulasi yang diterapkan tetap membuka ruang bagi inovasi sambil tetap mengurangi risiko terhadap stabilitas sistem keuangan.
Menurut IMF, kebijakan yang terlalu fokus pada larangan dapat justru mendorong aktivitas yang terkait dengan stablecoin beralih ke jalur yang sulit diawasi. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih seimbang antara memfasilitasi inovasi dan mengelola risiko dianggap lebih diinginkan dalam menghadapi perkembangan stablecoin di masa depan.
