Hacker Menyukai Korban dengan Kebiasaan Berisiko, Ini Faktanya!
Pada era digital yang semakin terhubung, ancaman peretasan tidak hanya mengincar perusahaan besar atau lembaga pemerintahan, melainkan juga pengguna biasa yang rentan melakukan kebiasaan berisiko.
Polisi: Korban Hanania Travel Diperkirakan 3.000 Orang, Kerugian Capai Rp95 Miliar!
Menurut para pakar keamanan siber, hacker cenderung menyasar korban dengan pola keamanan yang lemah. Hal ini membuat akun pengguna biasa rentan dibobol dan menjadi target empuk.
Publik Heboh! Fuji Kembali Jadi Korban Penggelapan Uang oleh Karyawan
Pada Jumat, 19 Juni 2026, VIVA merangkum bahwa beberapa jenis kebiasaan pengguna membuat mereka menjadi target utama para hacker:
- Menggunakan Password yang Sama di Banyak Akun
- Sering Mengklik Link yang Tidak Jelas
- Mengabaikan Verifikasi Dua Langkah
- Memakai Password yang Mudah Ditebak
Penggunaan password yang sama untuk beberapa layanan berbeda rentan membuat akun rentan terhadap serangan hacker. Jika satu layanan mengalami kebocoran data, hacker dapat menggunakan kombinasi email dan password untuk mengakses platform lain, metode yang dikenal sebagai credential stuffing.
Tautan yang mencurigakan sering menjadi jebakan bagi pengguna. Metode phishing tetap efektif untuk mencuri informasi login pengguna. Dengan mengirim pesan palsu yang tampak resmi, hacker bisa dengan mudah mendapatkan data pribadi korban.
Penggunaan Multi-Factor Authentication (MFA) atau verifikasi dua langkah disarankan sebagai perlindungan tambahan. Akun tanpa MFA lebih rentan terhadap serangan karena proses peretasan menjadi lebih mudah tanpa lapisan keamanan tambahan.
Password yang mudah ditebak juga memberikan celah bagi hacker untuk membobol akun. Pengguna disarankan untuk menggunakan kombinasi karakter yang kuat untuk menjaga keamanan akun mereka.
