Bitcoin Masih Berpotensi Naik Signifikan Hingga Akhir 2026
Perkiraan mengenai kenaikan harga Bitcoin (BTC) masih terus menjadi sorotan hingga akhir tahun 2026. Bukan tanpa alasan, beberapa faktor menjadi pendorong utama di antaranya adalah siklus halving, adopsi institusi yang semakin meningkat, serta kondisi makroekonomi yang mendukung pertumbuhan aset kripto terbesar di dunia ini.
Siklus Halving Sebagai Penguat Kenaikan Harga
Siklus halving Bitcoin yang terjadi setiap empat tahun sekali memainkan peran penting dalam pergerakan harganya. Pada setiap siklus halving, imbalan bagi para penambang Bitcoin dipangkas hingga 50%, yang kemudian berdampak pada kelangkaan aset digital ini.
Setelah halving pada April 2024, imbalan per blok turun dari 6,25 BTC menjadi 3,125 BTC. Periode 12 hingga 18 bulan setelah halving seringkali menjadi momen di mana harga Bitcoin mengalami kenaikan yang signifikan.
Optimisme Berdasarkan Data Historis
Data historis menunjukkan bahwa setelah halving pada tahun 2012, harga Bitcoin meroket dari sekitar US$ 12 menjadi lebih dari US$ 1.100 pada 2013. Begitu juga setelah halving 2016, Bitcoin melonjak dari kisaran US$ 650 menjadi hampir US$ 19.700 pada 2017. Bahkan setelah halving 2020, BTC berhasil mencapai rekor tertinggi hingga US$ 69.000 pada 2021.
Meskipun persentase kenaikan harga cenderung menurun seiring bertambahnya kapitalisasi pasar Bitcoin, pola historis ini tetap memberikan optimisme bahwa pasca-halving 2024 dapat membawa Bitcoin ke level harga yang baru. Faktor kelangkaan akibat berkurangnya pasokan Bitcoin baru juga dapat menciptakan efek supply shock, terutama jika permintaan tetap stabil atau bahkan meningkat.
Selengkapnya, kunjungi tautan sumber.
