Pakar ITB: Galon Polikarbonat yang Terdegradasi Tidak Kembali Membentuk BPA
Pakar Polimer Jurusan Teknik Kimia ITB, Hafis Pratama Rendra Graha, menjelaskan bahwa informasi mengenai bahaya Bisfenol A (BPA) pada galon polikarbonat yang terdegradasi tidaklah benar. Berdasarkan penelitiannya di laboratorium, proses degradasi tersebut tidak membentuk kembali monomer awal berupa BPA maupun phosgene.
BPA: Satgas Khusus Kejagung untuk Lacak Aset Koruptor Kasus Lama
Hafis menyatakan hal ini untuk mengoreksi informasi yang salah mengenai keamanan galon polikarbonat yang sering digunakan sebagai kemasan air minum. Tim peneliti sengaja merusak polikarbonat dengan paparan sinar ultraviolet (UV) untuk mengetahui senyawa apa yang terbentuk setelah proses degradasi.
Peneliti Indonesia Tuding Palsukan Riset di Forum Ilmiah Dunia, ITB Angkat Suara
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa potongan senyawa kimia kecil terbentuk secara acak setelah degradasi galon polikarbonat. Namun, tidak ada monomer awal BPA atau phosgene yang terbentuk kembali. Hafis menjelaskan bahwa fragment yang terbentuk memiliki beragam bentuk senyawa kimia, namun tidak ada yang kembali menjadi monomer awal.
“Secara kimia, hampir semua jenis plastik memiliki karakteristik serupa saat mengalami degradasi. Misalnya, proses pirolisis pada sampah plastik polypropylene tidak menghasilkan kembali gas propylene sebagai bahan baku awalnya,” ujarnya.
Selain itu, Hafis menjelaskan bahwa kadar BPA yang bisa bermigrasi ke dalam air dari galon polikarbonat sangat rendah. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah memastikan hal ini melalui pengujian sebelum produk beredar di pasaran.





