Benarkah Pernah Kena DBD Bikin Kebal? Temukan Faktanya!

by -36 Views

Waspada Demam Berdarah Dengue (DBD) di Tengah Masa Pandemi

Pandemi virus memang menjadi fokus utama dalam menjaga kesehatan, namun ancaman DBD juga tetap perlu diwaspadai. Belum lama ini, tercatat sebanyak 1.538 kasus DBD di Jakarta Barat sepanjang tahun 2026 yang menjadikan penyakit ini tetap menjadi ancaman kesehatan yang serius.

Masa Pandemi: Anak-Anak Rentan Terkena DBD

Beralih dari fokus utama kesehatan, yakni Covid-19, ancaman DBD juga tidak boleh diabaikan. Seiring dengan masuknya tahun ajaran baru, kesehatan anak menjadi prioritas utama. Masa-masa di luar rumah yang lebih banyak berpotensi membawa risiko dalam penularan DBD, terlebih pada anak-anak.

Data Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa anak usia 5-14 tahun rentan terhadap dampak DBD. Proporsi kematian tertinggi akibat dengue justru banyak terjadi pada kelompok usia tersebut. Angka kematian pada anak usia 0-14 tahun sebanyak 59%, sementara 41% di antaranya berasal dari kelompok usia 5-14 tahun. Hal ini mengisyaratkan bahwa anak tetap menjadi kelompok rentan terhadap dampak serius akibat infeksi dengue.

Dr. Ikhsanuddin Qothi Peringatkan Bahaya DBD

Dr. Ikhsanuddin Qothi, seorang dokter dan kreator konten, memberikan peringatan akan bahaya DBD yang mungkin belum dipahami banyak orang. Virus dengue memiliki empat serotipe berbeda, yang berarti seseorang yang pernah terinfeksi belum tentu kebal dari infeksi serotipe lainnya. Hal ini menekankan pentingnya langkah pencegahan yang konsisten meskipun telah terkena DBD sebelumnya.

Selain itu, dr. Ikhsan juga menegaskan bahwa belum ada obat khusus untuk menyembuhkan DBD. Pentingnya deteksi dini dan penanganan medis yang tepat menjadi kunci dalam menurunkan risiko DBD berat. Orang tua perlu waspada terhadap tanda-tanda bahaya, bahkan setelah demam mulai mereda, seperti muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan, atau penurunan kesadaran.

Source link