Stablecoin Tak Cocok Sebagai Alat Pembayaran Skala Besar, Deposito Tokenisasi Lebih Menarik
Jakarta – General Manager Bank for International Settlements (BIS), Pablo Hernandez de Cos, menyatakan bahwa stablecoin tidak dapat berfungsi secara andal sebagai alat pembayaran dalam skala besar. Sementara itu, deposito yang ditokenisasi menawarkan opsi yang lebih menarik untuk memanfaatkan teknologi baru ini.
Stablecoin merupakan jenis kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai stabil. Popularitasnya yang terus meningkat telah memicu kekhawatiran di kalangan pejabat, terutama di luar Amerika Serikat, mengenai stabilitas keuangan dan pencucian uang.
Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent justru mendukung stablecoin. Ia menyebutnya sebagai revolusi digital yang dapat memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia serta menciptakan permintaan terhadap surat utang pemerintah AS senilai triliunan dolar AS.
Dalam Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole yang diadakan Federal Reserve AS di Wyoming, Pablo Hernandez de Cos menyatakan bahwa kedua instrumen tersebut dapat berdampingan. Namun, ia lebih menyarankan deposito yang di-tokenisasi menjadi sarana utama untuk pembayaran sehari-hari, sedangkan stablecoin lebih cocok untuk fungsi-fungsi yang lebih khusus.
De Cos, yang merupakan kandidat pengganti Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde tahun depan, juga mencatat beberapa masalah terkait stablecoin. Ia mengakui bahwa stablecoin dapat menurunkan biaya pinjaman pemerintah seperti yang dikemukakan oleh Bessent. Namun, ada kemungkinan biaya pendanaan bank akan meningkat karena aliran dana beralih dari lembaga pemberi pinjaman, sehingga peminjam biasa mungkin harus membayar suku bunga yang lebih tinggi.
Selain itu, Stablecoin juga dianggap dapat memecah prinsip “kesatuan” uang karena nasabah tidak dapat berpindah antar produk tanpa melakukan transaksi jual-beli yang disertai biaya.
Dengan demikian, perdebatan mengenai peran stablecoin dan deposito yang ditokenisasi sebagai alat pembayaran terus berlanjut di kalangan pejabat keuangan dan ekonomi. Semua pihak sepakat bahwa penting untuk memahami manfaat dan risiko dari kedua instrumen ini sebelum menentukan kebijakan yang tepat untuk masa depan.
Sumber: Lihat sumber berita
